Allah ﷻ menciptakan manusia dari tanah. Hal ini diterangkan dalam surah Al-Mukminun ayat 12, Allah ﷻ befirman :
وَلَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ مِن سُلَـٰلَةٍۢ مِّن طِينٍۢ
Artinnya : Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah (QS Al-Mukminun: 12).
Secara sunnatullah, bahwa sesuatu yang diciptakan dari material tertentu, maka sesuatu tersebut akan membawa sifat dari material pembentuknya. Contoh, suatu barang yang dibuat dari material kayu, maka barang tersebut akan memiliki sifat kayu. Apabila suatu alat dibuat dari material besi, maka alat tersebut memiliki sifat besi. Demikian juga halnya dengan hati manusia, bahwa manusia diciptakan Allah ﷻ dari tanah. Maka hati manusia memiliki sifat tanah.
Beberapa sifat tanah yang umum antara lain:
- Tanah selalu menerima apapun benih yang ditebarkan atau ditanamkan padanya.
Tanah selalu menerima apapun jenis benih yang ditebarkan atau ditanamkan pada tanah tersebut. Sehingga terserah kepada pemilik tanah yang meletakkan benih tanaman yang diletakkan atau ditanamkan pada tanah.
- Menumbuhkan dan membesarkan apa yang ditebarkan atau ditanamkan padanya.
Tanah akan menumbuhkan dan membesarkan tanaman yang ditanam padanya sessuai jenis tanaman apa yang ditanam oleh pemilik tanah. Tentunya atas izin Allah ﷻ.
- Menerima dan pasrah apapun yang dilakukan oleh pemiliknya terkait dengan yang tumbuh padanya.
Tanah hanya bisa menerima dan pasrah apapun yang dilakukan oleh pemilik tanah terkait dengan tanaman yang sudah ditanam oleh pemilik tanah.
- Akan menumbuhkan tanaman dengan lebih baik jika diberi siraman, pupuk dan nutrisi yang cukup, serta akan menumbuhkan tanaman dengan kurang baik bahkan buruk jika kurang mendapat siraman, atau diberi siraman dan bahan yang buruk bagi tumbuhan.
Tanah akan menumbuhkan tanaman dengan lebih baik jika pemilik tanah melakukan perawatan terhadap tanaman yang telah ditanamnya di tanah tersebut, seperti menyiramnya, memupuknya, merwatnya. Sehingga tanaman akan tumbuh dengan subur dan sehat. Tanah juga akan menumbuhkan tanaman yang telah ditanam oleh pemilik tanah dengan kurang baik, jika pemilik tanah tidak melakukan perawatan dengan baik.
- Akan memberikan hasil sesuai jenis tanaman yang ditanam. Jika tanaman yang ditanam adalah tanaman yang baik, maka akan menghasilkan yang baik. Sebaliknya, jika tanaman yang ditanam adalah tanaman yang buruk, maka akan menghasilkan yang buruk pula.
Tanah akan memberikan hasil tanaman sesuai dengan jenis tanaman yang ditanam oleh pemilik tanah, dan sesuai dengan perawatan yang dilakukan oleh pemilik tanah. Apabila tanaman yang ditanama adalah tanaman yang bermanfaat seperti tanaman buah-buahan atau palawija atau tanaman industri, atas izin Allah ﷻ berkat cadangan nutrisi yang ada di dalam tanah diserap oleh akar tanaman, maka tanaman akan memberikan hasil yang baik bagi pemilik tanah. Tetapi jika tanaman yang ditanam adalah tanaman buruk seperti ganja atau opium atau dan lainnya, maka atas izin Allah ﷻ berkat cadangan nutrisi yang ada di dalam tanah diserap oleh akar tanaman, maka tanaman akan memberikan hasil yang buruk bagi pemilik tanah.
Kelima sifat tanah tersebut ada pada setiap tanah yang digunakan oleh manusia sebagai lahan pertanian atau bercocok tanam. Namun dalam menumbuhkan tanaman, sifat tanah tersebut dipengaruhi oleh sinar matahari, kesediaan air, serta angin dan udara dan kesuburan tanah.
Manusia diciptakan oleh Allah ﷻ dari tanah, dan secara sunnatullah hati manusia membawa sifat tanah. Sehingga kelima sifat tanah tersebut di atas ada pada hati manusia.
- Hati selalu menerima apapun benih ditanamkan padanya.
- Hati menumbuhkan dan membesarkan apa yang ditanamkan padanya.
- Hati menerima dan pasrah apapun yang dilakukan oleh pemiliknya terkait dengan yang tumbuh padanya.
- Hati menumbuhkan kebaikan yang ditanamkan oleh pemiliknya dengan lebih baik jika sering diberi siraman rohani berupa ilmu, iman dan ibadah yang cukup, serta akan menumbuhkan kebaikan yang ditanam dengan kurang baik bahkan buruk jika kurang mendapat siraman rohani, atau diberi siraman dan bahan yang buruk bagi tumbuhan.
- Hati memberikan hasil sesuai jenis yang ditanam di hati. Jika tanaman yang ditanam adalah kebaikan, maka akan menghasilkan yang baik. Sebaliknya, jika tanaman yang ditanam adalah keburukan, maka akan menghasilkan yang buruk pula.
Benih yang ditanam dalam hati manusia adalah berupa potensi dan kekuatan atau energi yang akan tumbuh di hati manusia. Adapun benih yang ditanam dalam hati manusia lewat :
- Ilmu, iman dan perasaan
Dengan ilmu yang diperoleh, pemilik hati akan memiliki pemahaman dan tata nilai yang tumbuh di dalam hati, dan menjadi kekuatan atau energi bagi pemilik hati dalam aktivitasnya menjalani kehidupannya sehari-hari.
Dengan iman yang dimiliki, pemilik hati akan memiliki tata nilai yang tumbuh di dalam hati sesuai dengan iman yang ada dihatinya, dan menjadi kekuatan atau energi bagi pemilik hati dalam aktivitasnya menjalani kehidupannya sehari-hari.
Dengan perasaan yang ada dihatinya, pemilik hati akan memiliki rasa atau perasaan terhadap setiap objek yang dihadapinya, dan menjadi kekuatan atau energi bagi pemilik hati dalam aktivitasnya menjalani kehidupannya sehari-hari. Ilmu, iman dan perasaan yang ada dalam hati seseorang seiring dengan waktu akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan apa yang dilakukan oleh pemilik hati terhadap ilmu, iman dan perasaan yang ada.
Apabila ilmu itu baik, iman itu baik, perasaan itu baik, maka jika pemilik hati merawatnya dan menjaganya, maka ilmu, iman dan perasaan itu akan tumbuh dan berkembang menjadi kekuatan atau energi kebaikan bagi pemilik hati.
Contoh:
- Seseorang mendapatkan benih ilmu atau pemahaman bahwa setiap kebaikan yang dilakukan sesorang kepada orang lain, sesungguhnya kebaikan tersebut akan kembali kepada pelaku kebaikan itu sendiri. Dengan pemahaman tersebut seseorang akan suka menolong orang lain. Maka secara sunnatullah setiap seseorang tersebut menolong orang lain, maka akan tumbuh dan berkembang kekuatan atau energi di hatinya suku menolong orang lain. Semakin sering dilakukannya menolong orang lain, maka akan semakin tumbuh dan berkembang besar di hatinya suku meolong orang lain. Sebaliknya, jika seseorang mendapatkan benih ilmu atau pemahaman bahwa setiap rupiah sekecil apapun yang dikumpulkan akan menjadi tabungan di masa mendatang, oleh karenanya maka berhematlah dan menabunglah. Sehingga pemahaman ini akan menjadi kekuatan dan energi dalam hati seseorang, dan orang tersebut akan selalu berhemat dan menanbung, dan sulit untuk dapat berbagi kepada orang lain. Jika orang tersebut tidak merubah mindset nya tersebut, maka sifat hemat dan menabung akan tumbuh dan berkembang di hatinya. Dan jika sudah tumbuh dan berkembang kuat mindset ini dihatinya, maka akan sangat sulit untuk merubahnya.
- Seseorang ada benih iman dihatinya bahwa setiap melakukan kebaikan, Allah ﷻ pasti akan membelasnya dengan balasan 10 kali lipat dari kebaikan yang telah dilakukan. Seperti firman Allah ﷻ dalam surah Al-An’am ayat 160
مَنْ جَاۤءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهٗ عَشْرُ اَمْثَالِهَا
Artinya : Barang siapa yang berbuat kebaikan, dia akan mendapat balasan sepuluh kali lipatnya… (QS Al-An’am:160)
Keimanan ini yang ada dalam hati akan menjadi kekuatan atau energi bagi pemilik hati untuk terus berbuat baik dengan mengharapkan balasan dari Allah ﷻ yang telah dijanjikan. Semakin sering orang tersebut berbuat baik, maka keimanan tersebut akan tumbah dan berkembang semakin besar. Sehingga orang tersebut menjadi orang yang mudah sekali berbuat kebaikan. Sebaliknya, jika seseorang memiliki benih iman atau keyakinan di hatinya sesuatu yang buruk, misalnya mempercayai dukun dapat membantu kesuksesannya, maka kepercayaanya itu menjadi kekuatan atau energi untuk meminta tolong kepada dukun untuk meraih kesuksesan. Semakin sering dilakukan, maka di hatinya semakin tumbuh dan berkembang keyakinan bahwa dukun dapat membantunya dalam meraih kesuksesan. Jika keyakinan ini tidak ditaubatinya, maka orang tersebut akan sulit untuk keluar dari keyakinan tersebut
- Seseorang yang di hatinya selalu mempunyai benih perasaan dan prasangka yang baik kepada orang lain, maka akan menjadi kekuatan atau energi dihatinya untuk selalu mempunyai perasaan dan prasangka yang baik kepada orang lain. Semakin sering dilakukan, maka perasaan dan prasangka baik tersebut akan tumbuh dan berkembang dalam hatinya. Sehingga menjadilah seorang pribadi yang selalu berperasaan dan prasangka yang baik. Walaupun seseorang terlihat atau terdengar salah, kekuatan berperasaan dan prasangka yang baik yang lebih kuat dan lebih mendominasi hatinya, sehingga akan tetap berperasaan dan prasangka baik terhadap orang dianggap salah tersebut. Sebaliknya, jika seserorang di hatinya ada benih perasaan dan prasangka yang buruk kepada orang lain, maka akan menjadi kekuatan atau energi dihatinya untuk selalu mempunyai perasaan dan prasangka yang buruk kepada orang lain. Semakin sering dilakukan, maka perasaan dan prasangka buruk tersebut akan tumbuh dan berkembang dalam hatinya. Sehingga menjadilah seorang pribadi yang selalu berperasaan dan prasangka yang buruk. Walaupun seseorang terlihat atau terdengar benar, kekuatan berperasaan dan prasangka yang buruk lebih kuat dan lebih mendominasi hatinya, sehingga akan tetap berperasaan dan prasangka buruk terhadap orang dianggap benar tersebut.
- Pendengaran
Lewat pendengaran pemilik hati akan menanamkan benih di hatinya dengan benih kebaikan jika yang didengar adalah kebaikan, atau dengan benih keburukan jika yang didengar adalah keburukan.
Contoh:
Seseorang pertama kali mendengarkan ceramah agama lewat HP nya, maka orang tersebut telah menanamkan benih mendengar ceramah agama dalam hatinya. Jika dilakukan lagi mendengar ceramah agama, maka benih tersebut akan tumbuh dan berkembang menjadi kekuatan atau energi dalam hatinya. Jika terus dilakukan, maka kekuatan atau energi dalam hati untuk mendengarkan ceramah agama semakin kuat dan membesar. Sebaliknya, apabila seseorang pertama kali mendengarkan acara gosip di radio, maka orang tersebut telah menanamkan benih mendengar gosip dalam hatinya. Jika dilakukan lagi mendengar gosip, maka benih tersebut akan tumbuh dan berkembang menjadi kekuatan atau energi dalam hatinya. Jika terus dilakukan, maka kekuatan atau energi dalam hati untuk mendengarkan gosip semakin kuat dan membesar.
- Penglihatan
Lewat penglihatan pemilik hati akan menanamkan benih dihatinya dengan benih kebaikan jika yang dilihat adalah kebaikan, atau dengan benih keburukan jika yang dilihat adalah keburukan.
Contoh:
Seseorang laki-laki pertama sekali berniat dan berazam untuk menundukkan pandangan dari yang haram (ghadhul bashar). Seperti firman Allah ﷻ dalam surah Al-An’Nur ayat 30:
قُلْ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ
Artinya: Katakanlah kepada laki-laki yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya… (QS An-Nur:30)
Maka orang tersebut telah menanamkan benih di hatinya ghadhul bashar untuk menundukkan pandangan dari yang haram dan menjadi kekuatan atau energi di hatinya untuk ghadhul bashar. Setiap kali dilakukannya ghadhul bashar, maka dihatinya tumbuh dan berkembang kekuatan atau energi ghadhul bashar dan semakin kuat. Sehingga jadilah dia menjadi seorang laki-laki yang benar-benar ghadhul bashar. Sebaliknya, jika seorang laki laki pertama kali nonton film porno (نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ ذَلِكَ), maka orang tersebut telah menanamkan benih di hatinya suka nonton film porno dan menjadi kekuatan atau energi di hatinya untuk suka nonton film porno . Setiap kali dilakukannya nonton film porno, maka di hatinya tumbuh dan berkembang kekuatan atau energi suka nonton film porno dan semakin kuat. Sehingga jadilah dia menjadi seorang laki-laki yang benar-benar suka nonton film porno, dan orang tersebut akan sulit melepaskan diri dari kebiasaan nonton film porno.
- Pengucapan
Lewat pengucapan pemilik hati akan menanamkan benih dihatinya dengan benih kebaikan jika yang diucapkan adalah kebaikan, atau dengan benih keburukan jika yang diucapkan adalah keburukan.
Contoh:
Seorang laki-laki pertama kali berniat dan berazam untuk selalu berkata yang baik atau jika tidak sebaiknya diam. Hal ini sesuai dengan hadist Rasullullah ﷺ dari Abu Hurairah Radiallahu ‘anhu:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam. (HR. Bukhari dan Muslim)[14]
Maka orang tersebut telah menanamkan benih di hatinya selalu berkata yang baik atau jika tidak sebaiknya diam dan menjadi kekuatan atau energi di hatinya untuk selalu berkata yang baik atau jika tidak sebaiknya diam. Setiap kali dilakukannya berkata yang baik atau jika tidak sebaiknya diam, maka dihatinya tumbuh dan berkembang kekuatan atau energi untuk selalu berkata yang baik atau jika tidak sebaiknya diam dan semakin kuat. Sebaliknya, jika seseorang pertama kali mengghibahi (menceritakan keburukan orang lain), maka orang tersebut telah menanamkan benih di hatinya suka mengghibah dan menjadi kekuatan atau energi di hatinya untuk suka mengghibah. Setiap kali dilakukannya mengghibah, maka dihatinya tumbuh dan berkembang kekuatan atau energi mengghibah dan semakin kuat. Sehingga jadilah dia menjadi seseorang yang benar-benar suka mengghibah, dan orang tersebut akan sulit melepaskan diri dari kebiasaan mengghibahi orang.
- Lewat perbuatan pemilik hati akan menanamkan benih di hatinya dengan benih kebaikan jika yang dilakukan adalah adalah perbuatan baik, atau dengan benih keburukan jika yang diucapkan adalah perbuatan buruk.
Contoh:
Seseorang saat pertama sekali melaksanakan shalat Tahajjut di sepertiga akhir malam. Maka orang tersebut telah menanamkan benih di hatinya melaksanakan shalat Tahajjut dan menjadi kekuatan atau energi di hatinya untuk melaksanakan shalat Tahajjut. Setiap kali dilakukannya melaksanakan shalat Tahajjut, maka dihatinya tumbuh dan berkembang kekuatan atau energi untuk selalu melaksanakan shalat Tahajjut dan semakin kuat. Sebaliknya, jika seseorang yang sudah terbiasa shalat fardhu berjamaah di Mesjid atau Musholla, dan ketika suatu saat orang tersebut tanpa udzur sengaja tidak shalat fardhu ke Mesjid atau Musholla, maka orang tersebut telah menanamkan benih di hatinya tidak shalat fardhu ke Mesjid atau Musholla dan menjadi kekuatan atau energi di hatinya untuk tidak shalat fardhu ke Mesjid atau Musholla. Setiap kali dilakukannya tidak shalat fardhu ke Mesjid atau Musholla, maka di hatinya tumbuh dan berkembang kekuatan atau energi tidak shalat fardhu ke Mesjid atau Musholla dan semakin kuat. Sehingga jadilah dia menjadi seseorang yang benar-benar tidak shalat fardhu ke Mesjid atau Musholla, dan orang tersebut akan sulit melepaskan diri dari kebiasaan tidak shalat fardhu ke Mesjid atau Musholla.
- Pikiran merupakan sesuatu yang dipikirkan dan merupakan hasil dari pendengaran, penglihatan, pengucapan dan perbuatan yang dilakukan, yang selanjutnya berdasarkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, pikiran akan memikirkannya. Apa yang dipikirkannya akan menghasilkan suatu keinginan terhadap apa yang telah dipikirkannya tersebut. Keinginan tersebut menjadi benih kekuatan. Apabila terus dipikirkannya, maka benih keinginan tersebut akan menguat. Semakin sering dipikirkannya, maka akan semakin kuat pula keinginan tersebut. Apabila yang dipikirkannya adalah sebuah kebaikan, maka hadirlah satu kekuatan keinginan untuk melakukan kebaikan. Tetapi apabila yang dipikirkannya adalah sebuah keburukan, maka hadirlah satu kekuatan keinginan untuk melakukan keburukan.
Contoh:
- Seorang anak menyaksikan seorang hafidz cilik (anak penghafal Qur’an ) melantunkan bacaan ayat suci Al-Qur’an dengan hafal 30 juz. Anak tersebut tertarik dan tersugesti, sehingga muncul dipikiran dan hatinya ingin menjadi hafidz Qur’an. Sejak itu anak tersebut terus memikirkan bagaimana agar dia dapat seperti hafidz cilik yang telah disaksikannya tersebut. Karena terus dipikirkannya setiap hari, maka muncul keinginan yang kuat untuk belajar tahfidz Qur’an. Dia sampaikan kepada orang tuanya bahwa dia ingin belajar tahfidz. Pikiran yang muncul pada anak tersebut melahirkan keinginan yang kuat sebagai benih kebaikan. Semakin dipikirkan, maka keinginan sebagai benih kebaikan akan semakin kuat. Sehingga lahirlah semangat yang kuat dan akan melahirkan sikap rajin dan bersungguh-sungguh untuk mewujudkan keinginannya tersebut.
- Seorang kasir dis sebuah perusahaan yang aktifitasnya melakukan transaksi pembayaran dan melakukan administrasi keuangan yang telah dibayarkan. Suatu saat dia ada keinginan untuk membeli suatu barang yang sangat dia idam-idamkan dan harganya yang lumayan mahal. Misalnya Iphone seri terbaru. Dia setiap hari memikirikan Iphone tersebut agar dapat dia beli. Karena terus menjadi pemikirannya, syaitan datang membisikkan kepadanya, bagaimana cara memperoleh uang untuk membeli Iphone tersebut. Kata syaitan, caranya sangat mudah. Buat saja kwitansi fiktif. Kata syaitan, biar nggak kelihatan dibuat saja kwitansi fiktif dipecah manjadi beberapa kwitansi yang nilainya lebih kecil agar tidak menimbulkan kecurigaan. Kasir tersebut terus memikirkan Iphone yang diinginkannya dan cara memperoleh uangnya sudah tahu dan menjadi benih keburukan. Jika semakin dipikirkannya, maka benih keburukan akan semakin kuat muncul keinginan untuk mewujudkannya. Jika terus dipikirkannya, maka menguatnya keinginan membuat kasir tersebut melakukan niatnya dan keinginan tersebut.
Oleh karena itu, jika ada seuatu kebaikan yang ingin dilakukan tetapi keinginan tersebut masih lemah. Maka teruslah dipikirkan kebaikan tersebut, dan yakini bahwa setiap kebaikan akan Allah ﷻ balas dengan kebaikan lain minimal 10 kali lipat. Semakin sering dipikirkan akan semakin kuat keinginan yang muncul sebagai benih kebaikan. Sebaliknya, jika ada suatu keburukan yang ingin dilakukan, maka jangan dipikirkan keburukan tersebut, tetapi beristighfarlah dan yang dipikirkan adalah keburukan hanya mengotori hati, menanam benih keburukan di hati dan mengundang murka Allah ﷻ. Setiap datang ingin memikirkan keburukan tersebut, lakukan istighfar kepada Allah ﷻ. Jagalah hati jangan sampai tumbuh benih-benih baru keburukan. Kikis dan hilangkanlah keburukan yang ada dihati, dan ganti dengan benih kebaikan-kebaikan sehingga tumbuh dan berkembang kebaikan dalam hati.
Dari penjelasan di atas, jelaslah sudah bahwa hati manusia bagaikan lahan tanah yang akan menumbuhkan dan membesarkan setiap benih yang ditanam pada hati tersbut. Sehingga pemilik hati benar-benar harus memperhatikan hantinya, kebaikan apa saja yang telah tumbuh pada hatinya, dan keburukan apa saja yang telah tumbuh dihatinya. Kabaikan apa yang ada di hati yang harus terus dirawat dan dijaga agar terus berkembang dan menguat. Keburukan apa yang ada di hati yang harus dikikis, sehingga keburukan itu tidak menguat untuk dihapuskan. Selanjutnya benih kebaikan apa lagi yang harus ditambah dalam hati.
Dengan memahami hal tersebut di atas, maka sadarilah bahwa:
- Setiap seseorang memulai sebuah kebaikan yang baru pertama sekali dilakukan olehnya, dan kebaikan yang dilakukannya tersebut di atas kesadaran dan pengetahunnya, maka seolah-olah orang tersebut menunjukkan kepada Allah ﷻ bahwa dia sedang menanamkan benih kebaikan tersebut di hatinya. Jika diulanginya perbuatan baik tersebut, secara sunnatullah benih tersebut tumbuh bagaikan pohon tumbuhan. Jika diulanginya kembali perbuatan baik tersebut, maka pohon tersebut bertambah besar dan semakin kuat akarnya. Sehingga kebaikan tersebut menjadi kekuatan di hati orang tersebut.
Perlu diketahui bahwa setiap kebaikan yang baru dimulai dilakukan, maka secara sunnatullah akan terasa sulit atau berat. Namun jika terus-menerus diulang dan bersungguh-sungguh, maka kesulitan dan rasa berat tersebut إِنْ شَاءَ اللَّهُ akan Allah ﷻ rubah menjadi mudah dan ringan. Allah ﷻ berfirman surah Asy-Syarh ayat 6:
اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ
Artinya: Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. (QS Asy-Syarh:6)
Contoh:
Seseorang ingin memulai untuk membiasakan melaksanakan shalat Tahajjud pada sepertiga akhir malam. Pertama sekali dilakukannya shalat Tahajjud, maka dihatinya tertanam benih melakukan shalat tahajjud. Orang tersebut akan merasakan betapa beratnya melakukan shalat Tahajjud. Jika esok hari dilakukannya kembali, maka benih melakukan shalat tahajjud akan tumbuh dihatinya bagaikan pohon kecil, dan menjadi kekuatan atau energi di hatinya untuk melakukan shalat tahajjud, serta rasa berat melakukan shalat tahajjud akan lebih ringan dari kamarin. Jika dilakukannya kembali shalat tahajjud, maka pohon melakukan shalat tahajjud tumbuh bertambah besar, dan kekuatan atau energi melakukan shalat tahujjud di hatinya semakin kuat, serta rasa berat melakukan shalat tahajjud akan lebih ringan dari kamarin. Sampai Allah ﷻ mengganti rasa berat dan sulit melaksanakan shalat tahajjud dengan rasa ringan dan mudah. Sehingga orang tersebut mencintai melakukan shalat tahajjud, dan akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak meninggalkan shalat tahajjud.
Mari kita berjuang untuk menambah kebaikan-kebaikan pada diri kita. Kebaikan yang baru memang selalu berat dan sulit untuk memulainya, namun jika kita sabar dan bersungguh-sungguh, إِنْ شَاءَ اللَّهُ akan Allah ﷻ ganti rasa berat dan sulit dengan ringan dan mudah.
- Setiap seseorang memulai sebuah keburukan yang baru pertama sekali dilakukan olehnya, dan keburukan yang dilakukannya tersebut di atas kesadaran dan pengetahunnya, maka seolah-olah orang tersebut menunjukkan kepada Allah ﷻ bahwa dia sedang menanamkan benih keburukan tersebut di hatinya. Jika diulanginya perbuatan buruk tersebut, secara sunnatullah benih tersebut tumbuh bagaikan pohon tumbuhan. Jika diulanginya kembali perbuatan buruk tersebut, maka pohon tersebut bertambah besar dan semakin kuat akarnya. Sehingga keburukan tersebut menjadi kekuatan di hati orang tersebut.
Perlu diketahui bahwa setiap keburukan yang baru dimulai dilakukan, maka secara sunnatullah telah tumbuh sebagai benih keburukan. Setiap keburukan akan terasa ringan dan asyik karena sesuai dengan hawa nafsu. Jika terus-menerus diulang dan bersungguh-sungguh, maka akan semakin ringan untuk dilakukan dan manjadi kebiasaan atau hobi.
Contoh:
Seseorang yang sudah terbiasa melaksanakan shalat fardhu, dengan selalu berdisiplin menjaga shalat fardhunya. Suatu ketika orang tersebut mendapatkan pekerjaan baru, dimana pekerjaannya tersebut membuat dirinya sibuk sehingga dirinya sulit untuk membagi waktu untuk mengerjakan shalat fardhu. Sehingga shalat fardhunya mulai tertinggalkan. Saat pertama sekali orang tersebut meninggalkan shalat fardhunya, maka di hatinya tertanam benih keburukan meninggaklan shalat fardhu, dan pada saat itu hatinya terasa berat meninggalkan shalat fardhu. Jika dilakukannya kembali meninggalkan shalat fardhu akan tumbuh benih tadi dihatinya bagaikan pohon kecil, dan menjadi kekuatan atau energi di hatinya untuk tidak melakukan shalat fardhu, serta rasa berat tidak melakukan shalat fardhu akan lebih ringan dari kamarin. Jika dilakukannya kembali tidak melakukan shalat fardhu, maka pohon tidak melakukan shalat fardhu tumbuh bertambah besar, dan kekuatan atau energi tidak melakukan shalat fardhu di hatinya semakin kuat, serta rasa berat tidak melakukan shalat fardhu akan lebih ringan dari kamarin. Sampai Allah ﷻ mengganti rasa berat dan sulit tidak melakukan shalat fardhu dengan rasa ringan dan mudah. Sampai orang tersebut merasa ringan sekali tidak melakukan shalat fardhu, dan sampai hilanglah rasa bersalah di hatinya tidak melaksanakan shalat fardhu. Tumbuh membesar pohon tidak melakukan shalat fardhu di hatinya, dan menjadi kekuatan atau energi di hatinya yang sangat kokoh. Maka jadilah orang tersebut sebagai orang yang tidak lagi melakukan shalat fardhu. Sulit hatinya untuk tergerak melakukan shalat fardhu, karena pohon tidak melakukan shalat fardhu telah membesar dan kuat.
Mari kita perhatikan pada diri kita dan keluarga kita, untuk jangan memulai suatu keburukan. Karena memulai keburukan adalah hal yang disenangi oleh hawa nafsu dan ringan mengerjakannya. Semakin sering dilakukan suatu keburukan akan semakin membesar tumbuh di hati. Sebelum tumbuh membesar suatu keburukan pada hati kita, segera kita hentikan. Karena jika sudah membesar akan sulit untuk ditinggalkan. Betapa banyaknya sekarang ini kaum muslimin (anak-anak dan dewasa) mudah sekali mengucapkan kata-kata kotor. Terlalu mudah mengucapkan kata-kata kotor. Ini menunjukkan bahwa di hatinya telah tumbuh besar keburukan suka mengucapkan kata-kata kotor. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
[14] Wafi Marzuki Ammar, Hadist-Hadist Tarbiyah, Alfasyam Publishing, 2019, h. 224.