Seorang anak manusia yang lahir ke dunia telah Allah ﷻ tetapkan pada hatinya ada potensial kebaikan dan potensial keburukan dengan kualitas dan kuantitas sesuai dengan yang Allah ﷻ kehendaki. Secara fitrah manusia itu mencintai kebaikan dan kebenaran. Hal ini dijelaskan dalam surat Ar-Rum ayat 30 Allah ﷻ berfirman:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًاۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam), sesuai fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS Ar-Rum:30)

Allah ﷻ menciptakan manusia dengan fitrah yang cenderung kepada kebaikan dan kebenaran. Namun, pengaruh lingkungan dan hawa nafsu dapat mengubah kecenderungan tersebut. Yang dimaksud dengan lingkungan adalah yang mendorong kita kepada keburukan, termasuk syaitan dari kalangan jin dan manusia.

Seiring dengan berjalannya waktu kehidupan, potensial kebaikan dan potensial keburukan akan berkembang sesuai dengan upaya yang dilakukan oleh sipemilik hati. Jika potensial kebaikan terus dijaga, maka akan berkembang menjadi kuat dan permanen, dan sebaliknya jika tidak dijaga maka akan sedikit demi sedikit perlahan akan melemah dan kalah dengan kekuatan yang melemahkannya.

Demikian pula dengan potensial keburukan pada hati. Dimana jika potensial keburukan pada hati dikikis, maka perlahan akan melemah dan terus melemah dan menghilang. Namun jika potensial keburukan tersebut justru diikuti, maka potensial keburukan akan semakin berkembang dan semakin kuat dan akan melemahkan potensial kebaikan pada hati.

Misalnya, si Fulan yang dikaruniai Allah ﷻ sifat lemah lembutnya. Maka jika dia menjaganya terus sifat lemah lembutnya, maka sifat lemah lembut tersebut akan terus menguat dan berkembang. Sifat lemah lembut tersebut akan menjadi mendominasi dalam aktivitas kehidupan sehari-harinya. Tetapi jika si Fulan aktivitasnya sehari-hari di lingkungan orang-orang yang kasar dan suka bicara yang kotor dan menyakiti hati orang lain. Maka dengan perlahan-lahan seiring waktu sifat lemah lembutnya akan memudar dan semakin melemah dan secara perlahan akan digantikan dengan sifat yang tidak lemah lembut atau kasar. Sehingga sifat bawaan lemah lembut yang merupakan bawaan lahir, jika tidak dipertahankan dan diperjuangkan, maka akan melemah dan dapat hilang dan tidak lagi tampil dalam aktivitasnya sehari-hari.

Memang hati secara fitrah mencintai kebenaran dan kabaikan, namun di dalam diri manusia terdapat nafsu yang sekalu menyeru untuk berbuat keburukan. Hal ini dijelaskan dalam surah Yusuf ayat 53 Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي

Artinya : Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku (QS Yusuf : 53)

Dengan memahami kondisi hati dan sebab-sebab perubahan pada hati, maka sudah seharusnyalah pemilik hati harus menjaga hatinya dengan cara menjaga dan mengembangkan potensial kebaikan pada hati, serta mengkikis potensial keburukan pada hati dan menggantinya dengan sifat kebaikan yang akan mengalahkan keburukan yang ada pada hati, yang secara automatis akan memperkaya hati dengan sifat-sifat kebaikan.

Pada hati manusia yang semula bersih, akibat dari perbuatan buruk yang dilakukan, Allah ﷻ meletakkan titik hitam di hatinya, dan jika manusia tersebut memohon ampun dan bertaubat, maka hatinya bersih kembali. Hal ini sesuai dengan hadist Nabi ﷺ berikut ini:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ، سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا، حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya: Sesungguhnya apabila seorang hamba melakukan dosa, maka akan muncul titik hitam di hatinya. Jika ia berhenti, beristighfar, dan bertaubat, maka hatinya akan bersih kembali. Tetapi jika ia kembali berbuat dosa, maka titik hitam itu akan bertambah hingga menutupi seluruh hatinya. Itulah raan yang disebut Allah dalam firman-Nya: ‘Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka’.(HR. Tirmidzi & Ibnu Majah). [1]

Bahkan ada hati manusia yang Allah ﷻ beri penyakit akibat dari perbuatan buruk yang telah dilakukannya. Allah ﷻ berfirman :

فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ۢ ەۙ بِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ

Artinya : Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya dan mereka mendapat azab yang sangat pedih karena mereka selalu berdusta (QS Al-Baqarah: 10).

Sedangkan bagi orang-orang kafir Allah ﷻ menutup hati mereka, menutup pendengaran mereka dan menutup penglihatan mereka. Dimana hati, pendengaran  dan pengelihatan mereka terhalang untuk menerima kebenaran. Allah ﷻ berfirman:

خَتَمَ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ وَعَلٰى سَمْعِهِمْ ۗ وَعَلٰٓى اَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَّلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ

Artinya: Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka. Pada penglihatan mereka ada penutup, dan bagi mereka azab yang sangat berat. (QS Al-Baqarah : 7)

Dalam ayat ini Allah ﷻ telah mengunci hati dan telinga serta mata orang-orang kafir sehingga nasihat atau hidayah tidak bisa masuk ke dalam hatinya. Sedangkan kondisi hati orang-orang yang beriman dalam keadaan damai dan tenteram karena selalu mengingat Allah ﷻ dan selalu beristighfar. Allah ﷻ berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra’d: 28)

Ayat ini menjelaskan bahwa hati orang-orang beriman tidak gelisah, karena selalu mengingat Allah dengan berdzikir, berdo’a dan beribadah kepada Allah ﷻ yang mendatangkan ketenangan dalam hati.

Dari Huzaifah bin al-Yaman radiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ عَرْضَ الْحَصِيرِ عُودًا عُودًا فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَتْ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَتْ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ حَتَّى تَصِيرَ الْقُلُوبُ عَلَى قَلْبَيْنِ قَلْبٌ أَبْيَضٌ مِثْلَ الصَّفَا لَا تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ وَيَصِيرُ  الآخَرُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا  لَا  يَعْرِفُ  مَعْرُوفًا

وَلا يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ

Artinya : Ditampakkan fitnah-fitnah di permukaan hati manusia seperti (anyaman) tikar sedikit demi sedikit. Maka hati yang menyerapnya akan dibubuhi satu titik hitam padanya, sedangkan hati yang mengingkarinya akan dibubuhi satu titik putih padanya. Sehingga (pada akhirnya) semua hati manusia akan (terbagi) menjadi dua macam: (pertama): hati yang putih (bersih dan kuat) seperti batu cadas, sehingga tidak akan dipengaruhi oleh fitnah selama langit dan bumi masih ada (sampai hari kiamat). Kedua: hati yang (berwarna) hitam keabu-abuan, seperti gelas yang miring atau terbalik (kebaikan tidak bisa menetap padanya), dia tidak mengenal kebaikan sebagai kebaikan dan keburukan sebagai keburukan, kecuali yang bersumber dari hawa nafsunya. (HR Muslim). [2]

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kondisi hati manusia ada dalam 2 kondisi, yaitu:

  1. Hati yang putih (bersih dan kuat) seperti batu cadas, sehingga tidak akan dipengaruhi oleh fitnah selama langit dan bumi masih ada (sampai hari kiamat).
  2. Hati yang (berwarna) hitam keabu-abuan, seperti gelas yang miring atau terbalik (kebaikan tidak bisa menetap padanya), dia tidak mengenal kebaikan sebagai kebaikan dan keburukan sebagai keburukan, kecuali yang bersumber dari hawa nafsunya.

Dalam hadist lain  yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Abu Sa’id Al-Khudhri, Rasulullah ﷺ bersabda :

الْقُلُوبُ أَرْبَعَةٌ قَلْبٌ أَجْرَدُ فِيهِ مِثْلُ السِّرَاجِ يُزْهِرُ وَقَلْبٌ أَغْلَفُ مَرْبُوطٌ عَلَى غِلَافِهِ وَقَلْبٌ مَنْكُوسٌ وَقَلْبٌ مُصْفَحٌ فَأَمَّا الْقَلْبُ الْأَجْرَدُ فَقَلْبُ الْمُؤْمِنِ سِرَاجُهُ فِيهِ نُورُهُ وَأَمَّا الْقَلْبُ الْأَغْلَفُ فَقَلْبُ الْكَافِرِ وَأَمَّا الْقَلْبُ الْمَنْكُوسُ فَقَلْبُ الْمُنَافِقِ عَرَفَ ثُمَّ أَنْكَرَ وَأَمَّا الْقَلْبُ الْمُصْفَحُ فَقَلْبٌ فِيهِ إِيمَانٌ وَنِفَاقٌ فَمَثَلُ الْإِيمَانِ فِيهِ كَمَثَلِ الْبَقْلَةِ يَمُدُّهَا الْمَاءُ الطَّيِّبُ وَمَثَلُ النِّفَاقِ  فِيهِ كَمَثَلِ الْقُرْحَةِ يَمُدُّهَا الْقَيْحُ  وَالدَّمُ  فَأَيُّ الْمَدَّتَيْنِ غَلَبَتْ عَلَى الْأُخْرَى غَلَبَتْ عَلَيْهِ

Artinya : Hati itu ada empat macam; hati yang bersih ia seperti lentera yang bercahaya, hati yang tertutup ia terikat dengan tutupnya, hati yang sakit dan hati yang terbalik. Adapun hati yang bersih adalah hatinya orang beriman, ia seperti lentera yang bercahaya, sedangkan hati yang tertutup adalah hatinya orang kafir, hati yang sakit adalah hati orang munafik, ia mengetahui yang baik namun ia mengingkari, dan hati yang terbalik adalah hati yang di dalamnya ada iman dan nifak, contoh keimanan di situ adalah seperti tanah yang dapat memberikan air yang bersih, sedangkan nifak adalah seperti bisul, di dalamnya hanya nanah dan darah, maka di antara keduanya yang paling kuat ia akan mengalahkan lainnya. (HR. Ahmad).[3]

Dalam hadist ini Rasulullah ﷺ membagi hati dalam 4 macam, yaitu:

  1. Qalbun ajrad(قلب أجرد): Hati yang polos tak bernoda, di dalamnya seperti ada pelita yang bersinar. Yaitu hati seorang mukmin, pelita dalam hatinya adalah cahaya
  2. Qalbun aghlaf (قلب أغلف): Hati yang tertutup yang terikat tutupnya, yaitu hati seorang kafir.
  3. Qalbun mankuus(قلب منكوس): Hati yang terbalik, yaitu hati seorang munafik, ia mengetahui tetapi kemudian malah mengingkari.
  4. Qalbun mushfah(قلب مصفح): Hati yang terlapis, yaitu hati yang di dalamnya bercampur iman dan nifak. Iman yang ada di dalamnya, seperti tanaman yang disirami air yang segar. Dan nifak yang ada di dalamnya, seperti bisul yang disirami darah dan nanah. Dari dua unsur tersebut, mana yang lebih dominan, maka itulah yang akan menguasai hatinya.

Hati manusia yang semula secara fitrah suci dan bersih yang memiliki potensi kebaikan dan potensi keburukan, seiring waktu berjalan dalam menjalani kehidupan di dunia, hati mengalami perubahan keadaan. Perubahan pada hati yang diakibatkan dari ilmu, iman dan perasaan yang dimiliki, apa yang didengarnya, apa yang dilihatnya, apa yang diucapkannya, dan apa yang dilakukannya. Perubahan yang terjadi pada hati manusia, sebagian ulama membagi hati manusia ke dalam 3 jenis, yaitu:

  1. Qolbun Salim (hati yang bersih), yaitu hati yang terhindar dari sifat-sifat buruk, penuh dengan cahaya iman, dan selalu condong kepada kebaikan.
  2. Qolbun Maridh (hati yang sakit), yaitu hati yang dipengaruhi oleh hawa nafsu dan godaan setan, namun masih memiliki peluang untuk diperbaiki melalui taubat dan amal kebaikan.
  3. Qolbun Mayyit (hati yang mati), yaitu hati yang hilang dari cahaya iman, dipenuhi keburukan, dan tertutup dari kebenaran, sehingga sulit untuk menerima petunjuk.[4]

Semakin banyak dilakukan keburukan, maka akan menimbulkan banyak penyakit pada hati. Penyakit hati merupakan kerusakan yang menimpanya, yang merusak pandangan dan keinginannya terhadap kebenaran. Seseorang yang hatinya banyak penyakit, maka orang tersebut tidak melihat kebenaran sebagai kebenaran. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

وَاَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا اِلٰى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوْا وَهُمْ كٰفِرُوْنَ

Artinya: Dan adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit, maka (dengan surah itu) akan menambah kekafiran mereka yang telah ada dan mereka akan mati dalam keadaan kafir. (QS. At-Taubah : 125)

[1] Bahrum Subagiya, Akhmad Alim, Implementasi Tazkiyyah Qalb Dalam Pendidikan Islam, Universitas Ibn Khaldun, Bogor, 2019, h, 344.

[2] Zulkifli Muhammad Al-Bakri, Kaidah Penyucian & Penjernihan Hati, Maktabah Al-Bakri, Selangor, 20211, h.10.

[3] Sa’id Abdul Azhim, Agar Hati Lebih Hidup, Cakrawala Publishing, Jakarta, 2010, h.117

[4] Nakhma’ussolikhah, Widodo Winarso, Model Konseling Ekspresif Islam Untuk Kesehatan Mental Holistik, Malang, 2022, h.78