Hati atau qalbu menurut bahasa adalah segumpal daging atau sesuatu yang dapat membalik atau berbolak balik, dalam bahasa arab disebut qalbun jamaknya qulubun.[1] Qalbu ini amat berpotensi untuk tidak konsisten Al-Qur’an pun menggambarkan demikian, ada yang baik, adapula sebaliknya. [2]
Menurut istilah Al-Ghazali mendefinisikan qalbu sebagai tempat yang befungsi untuk menyerap ilmu pengetahuan atau yang disebut sesuatu yang halus (al-Lathiifah ), yaitu sebuah “tempat” (ruang ) dimana ilmu dapat melekat padanya. Sesuatu yang halus inilah hakikat manusia yang tidak bisa diselami oleh akal dan pikiran, tetapi dengan perasaan, dan perasaan ini harus diikat dengan al-Qur’an dan Sunnah supaya bisa terarah kepada kebenaran Allah ﷻ. [3]
Hati atau qolbu (قلب) yang berarti jantung, berasal dari bahasa arab qolaba (قَلَبَ ) yang berarti berputar atau beralih. Yaitu suatu yang bersifat berputar atau beralih. Atau sesuatu yang berbolak-balik. Hati manusia secara fitrah mempunyai sifat berbolak-balik, sehingga hati perlu penjagaan dari keburukan.
Dalam dunia medis hati (qalbu/jantung) adalah anggota tubuh yang menampung darah dengan sedikit oksigen dari pembuluh darah vena ke dalam serambi kanan (Right Atrium), lalu memompanya ke bilik kanan (Right Ventrikel), kemudian dipompa untuk melakukan pertukaran dengan darah yang kaya oksigen di paru-paru melalui arteri pulmonalis masuk ke serambi kiri (Left Atrium) untuk diteruskan ke bilik kiri (Left Ventrikel). Kemudian darah dialirkan melalui katup aorta untuk diedarkan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah aorta. [4]
Hati yang dimaksud secara fisik adalah jantung. Namun hati yang akan dibahas kali ini adalah sebagaimana hadist dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma Rasulullah ﷺ bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
Artinya: Dan ketahuilah pada setiap tubuh ada segumpal darah yang apabila baik maka baiklah tubuh tersebut dan apabila rusak maka rusaklah tubuh tersebut. Ketahuilah, ia adalah hati (jantung)” (HR Bukhari & Muslim) [5]
Dalam kitab Al-Arba’un Al-Qalbiyyah karya Syaikh Sholeh Al-Munajjid menjelaskan bahwa : Hati merupakan rajanya anggota badan dan sisanya adalah pasukannya. Maka bersama dengan hal ini, sebuah pasukan akan mengikuti rajanya, menjadi pengikutnya dalam kesetiaan, melaksanakan segala macam perintahnya, tidak menyelisihinya dalam segala macam perkara. Dengan demikian, jika tuannya dalam kebaikan maka pasukannya berada dalam kebaikan pula. Sedangkan apabila rajanya dalam keburukan maka pasukannya akan ikut dalam keburukan. Dan tiada sesuatu yang bermanfaat disisi Allah ﷻ, melainkan hati yang selamat.
Sesungguhnya Allah ﷻ melihat hati para hamba-Nya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الله لا يَنْظُرُ إِلى أَجْسامِكْم، وَلا إِلى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وأعْمَالِكُمْ
Artinya : Sesungguhnya Allah ﷻ tidak melihat kepada keadaan badan-badan kalian, ataupun kepada wajah-wajah kalian. Melainkan Allah ﷻ melihat kepada hati-hati dan seluruh amalan kalian (HR Muslim).[6]
[1] 5A.W. Munawir Muhammad Fairuz, Kamus al-Munawir Indonesia Arab Terlengkap, Cetakan I; Pustaka Progresif, Yogyakarta, 2007, h. 314.
[2] M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an: Tafsir Tematik Atas Pelbagai Persoalan Umat, Mizan Pustaka Khazanah Ilmu-Ilmu Islam, Bandung, 1996, h. 381
[3] Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumuddin Terj. Ismail Yakub, Mengembangkan Ilmu-Ilmu Agama, Jilid 2 Cetakan II, Pustaka Nasional PTE. LTD, Singapora, 1992, h.899.
[4] Fajrian Aulia Putra, dkk, Pengantar Anatomi Fisiologi Manusia dan Penyakit, KBM Satrabook, Depok, 2024, h.17
[5] Ebook Shahih Bukhari, (d) da’wahrights, 2010, h. 29
[6] Imam Al-Ghazali, Ebook Minhajul Abidin, 2021, h. 104