Hati manusia ketika dilahirkan ke dunia dalam keadaan fitrah atau suci. Bersih bagaikan kertas putih tanpa noda. Sebagaimana yang diterangkan oleh Rasulullah ﷺ dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
… مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ….
Artinya : Seorang bayi tidak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). (HR Buchari). [1]
Hati yang terlahir secara fitrah bersih tersebut, secara sunnatullah Allah ﷻ menganugerahinya dengan potensi kebaikan dan potensi keburukan pada hati tersebut. Hal ini terdapat pada surat Asy-Syams ayat 8 :
فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَاۖ
Artinya : Lalu Dia (Allah) mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya (QS Asy-Syams: 8)
Allah ﷻ anugerahi potensial diri pada hati manusia sifat baik dan sifat buruk. Dimana sifat baik sebagai potensial baik untuk berbuat baik dan potensial buruk untuk berbuat buruk atau kejahatan. Sehingga jika kita perhatikan diri kita atau orang di sekitar kita, masing-masing memiliki sifat kebaikan dan juga sifat keburukan.
Misalnya si Fulan dikenal sebagai orang yang jika berbicara lemah lembut. Sifat lemah lembutnya si Fulan tersebut merupakan Allah ﷻ karuniakan kepadanya. Sehingga tanpa berusaha untuk berlemah lembut, si Fulan memang pembawaannya lemah lembut. Orang awam mengatakan bawaan lahir. Misalnya juga, si Fulan selain dikenal sebagai orang lemah lembut, dia juga dikenal sebagai orang yang pelit atau kikir. Artinya, Allah ﷻ juga mengkaruniakan kepada si Fulan sifat pelit. Ada potensi bawaan lahir yang baik dan yang buruk.
Ada juga misalnya si Fulanah dikenal sebagai orang yang suka menolong orang lain. Maka sifat suka menolong orang lain itu adalah Allah ﷻ yang mengkaruniakan kepadanya. Sehingga si Fulanah pembawaannya suka menolong orang lain. Misalnya juga, selain suka menolong orang lain, si Fulanah juga suka mengungkit-ungkit pertolongan yang telah diberikannya dengan menceritakannya ke banyak orang (ghibah).
Sehingga setiap manusia memiliki hati yang secara fitrahnya yang sudah menjadi bawaan sejak lahir ada potensial baik dan potensial buruk, yang selanjutnya akan mensifati hati manusia itu, dan akan terlihat dalam aktivitasnya sehari-hari. Sehingga masyarakat akan memberi penilaian kepada sesorang itu bahwa orang tersebut apakah dinilai sebagai seorang pemberani, pemalu, pendiam, pemarah, pengasih, lemah lembut, sopan, suka menolong, mudah tersinggung, periang, pelawak, penyabar dan lain-lain. Dimana sifat tersebut sudah memang terlihat sejak kecil. Inilah sifat bawaan lahir.
Rasulullah ﷺ sendiri sebagai seorang yang paling mulia dari semua manusia yang pernah terlahir di permukaan bumi ini, Beliau ﷺ adalah manusia biasa. Seperti yang dikabarkan dalam Firman Allah ﷻ dalam surat Al-Kahfi ayat 110 :
….. قُلْ إِنَّمَا أَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ
Artinya : Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu… (QS Al_Kahfi:110)
Sebagai manusia seperti orang lainnya, tentu sunnatullah potensial kebaikan dan potensial keburukan juga ada para diri Muhammad kecil. Sehingga Muhammad kecil yang akan dipersiapkan sebagai manusia termulia yang akan menjadi penerima wahyu dari Allah ﷻ dan akan sebagai Rasulullah, Muhammad kecil hatinya dicuci dari semua potensial-potensial keburukan yang ada pada hati Muhammad kecil.
Kisah Muhammad kecil sedang menggembalakan kambing milik keluarga Halimah binti Abi Dzuaib dari Kabilah as Sa’diyah, tiba-tiba Beliau ﷺ didatangi dua malaikat, lalu keduanya membelah dada Nabi ﷺ dan mengeluarkan bagian yang kotor dari hatinya. Peristiwa ini telah dijelaskan oleh Anas bin Malik adiallahu’anhu dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam Muslim.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَاهُ جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَلْعَبُ مَعَ الْغِلْمَانِ فَأَخَذَهُ فَصَرَعَهُ فَشَقَّ عَنْ قَلْبِهِ فَاسْتَخْرَجَ الْقَلْبَ فَاسْتَخْرَجَ مِنْهُ عَلَقَةً فَقَالَ هَذَا حَظُّ الشَّيْطَانِ مِنْكَ ثُمَّ غَسَلَهُ فِي طَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ بِمَاءِ زَمْزَمَ ثُمَّ لَأَمَهُ ثُمَّ أَعَادَهُ فِي مَكَانِهِ وَجَاءَ الْغِلْمَانُ يَسْعَوْنَ إِلَى أُمِّهِ يَعْنِي ظِئْرَهُ فَقَالُوا إِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ قُتِلَ فَاسْتَقْبَلُوهُ وَهُوَ مُنْتَقِعُ اللَّوْنِ
قَالَ أَنَسٌ وَقَدْ كُنْتُ أَرْئِي أَثَرَ ذَلِكَ الْمِخْيَطِ فِي صَدْرِهِ
Artinya : Rasulullah ﷺ didatangi Malaikat Jibril ketika Beliau ﷺ sedang bermain dengan beberapa anak. Jibril kemudian menangkapnya, menelentang-kannya, lalu Jibril membelah dada beliau. Jibril mengeluarkan hatinya, dan mengeluarkan dari hati beliau segumpal darah beku sambil mengatakan “Ini adalah bagian setan darimu”. Jibril kemudian mencucinya dalam wadah yang terbuat dari emas dengan air zam-zam, lalu ditumpuk, kemudian dikembalikan ke tempatnya. Sementara teman-temannya menjumpai ibunya (maksudnya orang yang menyusuinya) dengan berlari-lari sembari mengatakan, “Sesungguhnya Muhammad telah dibunuh”. Kemudian mereka bersama-bersama menjumpainya, sedangkan dia dalam keadaan berubah rona kulitnya (pucat). Anas mengatakan, “Saya pernah diperlihatkan bekas jahitan di dadanya.” (HR. Muslim). [2]
Muhammad kecil memiliki potensial keburukan pada hatinya, kemudian malaikat Jibril mengatakan tentang yang dkeluarkan dari hati Muhammad kecil “ini adalah bagian setan darimu”. Dalam buku Ar-Rahiq Al-Makhtum (h.74) dan buku Fikih Sirah Nabawiyah (h.69) menjelaskan bahwa peristiwa tersebut ketika Muhammad kecil berusia 4 tahun.
Imam Ibnu Qoyyim Rahimahullah menjelaskan tentang fitrah hati manusia, bahwa sesungguhnya Allah ﷻ telah menjadikan fitrah di dalam hati untuk menerima kebenaran, tunduk kepada-Nya, merasa tenang dan tentram kepada-Nya serta mencintai-Nya. Fitrah hati itu juga membenci kedustaan dan kebatilan, menyangsikannya, menghindar darinya dan tidak tenang kepadanya. Sekiranya fitrah tetap dalam keadaannya semula, tentu ia tidak akan mementingkan selain kebenaran dan tidak merasa tenang kecuali kembali kepada-Nya, tidak tentram kecuali dengan-Nya dan tidak mencintai selain-Nya.[3]
Allah ﷻ ciptakan hati manusia dengan fitrah menerima kebenaran, tunduk kepada-Nya, merasa tenang dan tentram kepada-Nya serta mencintai-Nya. Sehingga jika kita perhatikan anak-anak yang hatinya belum terpapar dengan keburukan-keburukan duniawi, hati mereka menerima kebenaran, tunduk kepada kebenraan, merasa tenang dan tentram serta mencintai kebenaran. Sedangkan anak-anak dan orang dewasa yang sudah terpapar dengan keburukan-keburukan duniawi, akan lebih sulit untuk menerima kebenaran, sulit tunduk kepada kebenaran, tidak merasa tenang dan tentram serta mencintai kebenaran.
[1] Ebook Shahih Bukhari, (d) da’wahrights, 2010, h.136
[2] M. Quraish Shihab, Membaca Sirah Nabi Muhammad, Lentera Hati, Tangerang, 2018, h. 219
[3] Syaikh Muhamamd Uwais An-Nadwy, Tafsir Ibnu Qoyyim:Tafsir Ayat-Ayat Pilihan, Darul Falah, Bekasi, 2014, h.227.